Masa Yang Sulit Untuk Dipercaya

Berawal dari kata yang kala itu, atau bagaimana awalan yang bagus untuk diungkapkan...
   yang sudah bayangkan saja usia bukan segalanya, sempat gue untuk memikirnya, pada saat itu
kira-kira gue masih duduk di bangku sekolah dasar, mengenakan baju putih dan celana pendek berwarna merah, karena kebetulah gue sekolah dasarnya di indonesia, kebayang kalau pada saat itu gue SD nya di polandia, mungkin saja celana pendek berwarna merah itu yang gue paksa kenakan di badan,
  sulit betul, kalau mencoba membayangkanya.....

maka gue sesekali suka iseng dan memikirkan yang tidak banyak orang lain fikirkan....

miskipun gue juga gak tau apa yang sedang orang lain  fikirkan.,

Kelas satu SD, kondisi belajar yang sungguh membosankan, kenapa tidak ?
buk gurunya mengajarkan kami seolah olah marah, betul-betul seperti sedang marah,,

untuk menulis satu huruf saja dia bisa pakai size 144 besarnya jadi hampir sepertiga dari papan tulis tersebut habis oleh satu tulisan, itu membuat gue sungguh syok,

dan tidak berani menantap bu guru tersebut, karena saya masih berfikir, kenapa ibu itu memelototi kaca didepan matanya. kalau kata orang dewasa cerita nya itu kacama.. ada-ada saja, mungkin orang dewasa itu memang suka mengada-ngada.

didalam kelas semua anak-anak disuruh mengikuti apa yang beliau sampaikan, ya... sibu guru itu

karena gue gak terlalu tau dan belum sempat berkenalan sama beliau, karena pada waktu perkenalan gue masih asyik dengan timun balado yang di potong -potong, tapi bentuk potongannya bukan bulan namun lonjong, hal itu membuat gue jadi ngiler mau bikin dulu....

sebelum lanjut gue tulis berikutnya, ge mau liat lemari es dulu sapa tau ada keyimunya, lumayan bernostagia dengan jajana semasa SD, hmn......

ternyata ada, oke lanjut kita cari pisau dan mulai mengupasnya dengan penuh semangat,

karena setelah ini gue akan membuat sambelnya seperti halnya gue berharap rasanya seperti buk warung yang jual depan sekolah.

huuuhh... waktunya menggiling cabe rawit .. sungguh sensasi yang luar biasa... pedas dan panas ditangan.

ditambah saus, garam, dan penyedap makanan air panas sedikit, sepertinya itu resepnya.

oke jangan lupa bawang goreng ditabur diatas kuah sambel nan pedas membahana sedikit membahayakan kalau dikonsumnya bukan lewat mulut,.. gak percaya .. kalau kamu masukin kemata lumayan bukan...
====

pelajaran membaca itu membosankan, karena gue tau belum masuk SD pun gue sudah bisa baca tulis,
bukan karena prematur, karena keisengan saja, nanti gue ceritaiin, pada dasarnya gue gak mau sekolah.
tapi gue gak tahan ma kata-kata puitis dari mak gue, jadi bukan terpaksa .. memaksakan diri.
padahal gue sudah sering bilang ke beliau ,

hayoo... buruan sekolah...! mak-mak yang nyap-nyap ceritanya 

*(translate , Nyap-nyap : Ngoceh )*

sudah taukan apa itu nyap-nyap, ya sudah jangan terlalu dipersulit
Kenapa kamu susah amat kalau disuruh sekolah,
Ya... karean gue udah pintar jadi gak usah sekolah, kalau pada waktu itu gue gak sekolah

mungkin gue sekarang sudah menjadi kepala sekolah bagian non aktif, karena gue bukan orang yang aktif dipendidikan alias sekolah,

***
Belajar INI BUDI, dan semua anak-anak kembali diucap... sungguh kelas yang berisik menurut gue,
dan disitu gue baru tau kalau budi itu pasti hitam dan ditorehkan oleh sebuah kapur putih,

panas, grahh.. bagaimana tidak dengan tubuh gue yang masih mungil tidak sekecil yang anda bayangkan bak tanaman yang tingginya 5 cm, itu terlalu naif
cocok bukan untuk menggunakan kata tersebut, N- A-I_F

setidak nya biar lebih bagus saja, melelapkan memang dengan kondisi pakaian yang rapi, mengenakan dasi, sepatu hitam kaus kaki yang bekas, lupa juga bekas siapa pada waktu ini,

karena yang gue rasakan itu kaos kaki kalau sudah ditari keatas, dengan inisiatif sendirinya
kembali turun kebawah, dan hambpir 2 kalai dalam satu jam gue harus narikin kaus kaki yang terjun bebas ke sepatu,

gue sungguh menyesal dengan kaos kaki tersebut gue bisa melihat-lihat suasana dibawah meja

tentu pandangan pertaman ke arah kaki wanita, namun gue gak mau mengulangi nya kembali
sungguh hal yang memalukan, kaki teman permpuan yang gue liat sedang dikerumuni oleh lalat yang sedang beritual dikakinya,
mengesankan memang...

sejak kapan lalat itu disana, dan kenapa bisa bergerombolan begitu, apakah mereka tersesat ?
tau sedah trasmigrasi/ berpindah. mungkin saja, karena gue gak bisa pastikan karena belum sempat konfirmasi dengan koordinator sang lalat tersebut, nah... gue tau ternyata lalat itu sedang menghinggapi salah satu bekas luka,

sungguh lalar yang simpatik terhadap hal yang terluka.... mengharukan memang.
gue harus naik berlahan-lahan dan duduk manis di kursi dengan meja yang harusnya berisi dua orang sepertinya dipaksakan menjadi 3 orang,
karena tubuh kami yng kecil-kecil. bukan karena menciut.

***** Pelajaran Selanjutnya, Coming Soon




0 comments:

Post a Comment